WALI ALLAH ADALAH PEJUANG ISLAM KÂLFFAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Di tengah-tengah ummat yang sedang gigih berdakwah kepada syariah dan khilafah, ada saja sebagian tokoh muslim yang melakukan penggembosan terhadap dakwah, dengan melakukan pembodohan terhadap ummat, bahwa NKRI dengan dasar Pancasila-nya ini telah dijaga dan dilindungi oleh para wali Allah, tidak boleh diganti meskipun dengan khilafah. Narasi seperti itu terus dihembuskan ke tengah-tengah umat yang panatik kepada organisasi dan para tokohnya. 

Sekarang kita kupas tuntas siapakah wali Allah itu :

DEFINISI WALI

Imam Ali bin Muhammad al-Jarjani dalam al-Ta’rifat-nya berkata:

“Term waliy dengan bentuk jamak Awliyá' itu mengikuti wazan fa’îl (istilah ini terkait ilmu sharof, bagi kita yang tidak pernah mempelajarinya tentu tidak akan paham) dengan makna fâ’il, yaitu orang yang terus melakukan ketaatan dengan tanpa mencampurnya dengan maksiat, dan ini biasa disebut wali kasbiy (derajat wali hasil kerja kerasnya sendiri); atau mengikuti wazan fa’îl dengan makna maf’ûl, yaitu orang yang mendapat limpahan ihsan (pemberian kebaikan) dan ifdlal (pemberian anugerah) dari Allah swt, dan ini biasa disebut wali ladunniy (derajat wali yang lasung diberikan oleh Allah, dimana salah satu sebabnya adalah orang tuanya atau gurunya yang telah menjadi wali, yang terus berdoa kepada Allah agar anaknya atau muridnya juga menjadi wali, lalu Allah mengabulkannya). Wali seperti ini ada yang dulunya adalah ahli maksiat, lalu tiba-tiba kondisinya berubah 180 derajat, karena mendapat ihsan dan ifdlal dari Allah swt.

Wali (al-waliy) adalah al-Aarif (orang yang mengenal / makrifat) kepada Allah swt dan kepada sifat-sifat-Nya, yang kontinu dalam melaksanakan ketaatan, yang menjauhi kemaksiatan, dan yang tidak berlebihan dalam menikmati dan menyayangi lazat dan sahwat dunia”.

Arti makrifat kepada Allah ialah mengerti bahwa manusia (termasuk dirinya), alam semesta dan kehidupan, semuanya adalah makhluk (diciptakan) dan pasti ada penciptanya. Kemudian menemukan dan meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa penciptanya adalah Allah swt. Dia makrifat kepada Allah melalui proses berfikir mengenai ciptaan-Nya. Sebab mustahil manusia, alam semesta dan kehidupan yang luas dan besarnya tidak terukur dan tidak terdeteksi oleh kekuatan indra dan akal manusia, itu terjadi tanpa ada penciptanya. Padahal benda sekecil jarum saja ada penciptanya.

Makrifat kepada Allah itu bukan melihat langsung Zat (diri) Allah, baik dengan mata kepala atau dengan mata hati seperti klaim sebagian sufiyah. Karena manusia, baik muslim atau non muslim, semuanya dituntut agar beriman kepada Allah sebagai Pencipta. Sedangkan iman itu hanya terkait dengan perkara-perkara ghaib. Kita beriman kepada Allah kerena kita belum melihat Diri Allah secara langsung. Sedang al-Qur’an dan as-Sunnah keduanya telah menjelaskan bahwa Diri Allah itu bisa dilihat di akhirat saja, yaitu di surga, sebagai nikmat terbesar bagi penduduk surga. Sedang beriman kepada Allah itu wajib sampai mati.

Berarti manusia itu tidak ada yang bisa melihat Diri Allah di dunia ini, karena kalau ada yang bisa melihat Allah, maka ia sudah tidak wajib beriman lagi, karena  Allah sudah tidak ghaib lagi. Sedang klaim sebagian shufiy bahwa ia telah melihat Zat Allah dengan mata hatinya, bisa saja yang telah dilihat olehnya hanyalah Iblis yang mengaku sebagai Tuhan, mengaku sebagai Allah swt. Ini banyak dijelaskan oleh para ulama, termasuk dalam kitab manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani yang pernah didatangi Iblis yang mengaku sebagai Allah swt. Dan termasuk makrifat kepada Allah swt adalah makrifat kepada sifat-sifat-Nya.

PEMBAGIAN WALI

Wali itu terbagi menjadi dua : Wali Allah dan wali Thaghut. Dalam hal ini, Allah swt berfirman:
ﺍَﻟﻠﻪُ ﻭَﻟِﻲُّ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮْﺭِ، ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭْﺍ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺅُﻫُﻢُ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮْﺕُ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻮْﻧَﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨُّﻮْﺭِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ، ﺃُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻫُﻢْ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُﻭْﻥَ .
“Allah wali (pelindung/ penolong) bagi orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Sedang orang-orang kafir, wali-wali mereka adalah thaghut (syetan), yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. QS al-Baqaroh[2]: 257.

Allah swt telah menghabarkan kepada kita, bahwa Dia adalah Wali, yakni al-Waliy dengan wazan fa’îl bermakna fâ’il (pelindung/ penolong) bagi orang-orang yang beriman. Orang yang beriman adalah wali, yakni al-waliy, dengan wazan fa’îl bermakna maf’ûl (yang dilindungi/ yang ditolong), bagi Allah swt. Allah mengeluarkan para walinya dari kegelapan berupa kekufuran, kemusyrikan, kesesatan dan bid’ah. Para wali Allah adalah orang-orang yang dikeluarkan dari kegelapan, yakni orang-orang yang meninggalkan kegelapan. Allah memasukkan mereka kepada cahaya, cahaya iman dan Islam.
Sedang orang-orang kafir adalah menjadi wali-wali (yang dilindungi/ yang ditolong oleh) Thaghut (syetan). Thaghut adalah wali (pelindung/ penolong) bagi orang-orang kafir. Thaghut mengeluarkan para walinya dari cahaya, dan memasukkan mereka kepada kegelapan.

WALI ALLAH

Wali Allah (waliyullâh) atau wali Rahman (waliyurrohmân), adalah orang mukmin yang bertakwa. Allah swt berfirman :
ﺃَﻟَﺎ ﺇِﻥَّ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻟَﺎ ﺧَﻮْﻑٌ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺰَﻧُﻮْﻥَ، ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺘَّﻘُﻮْﻥَ ...
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. QS Yunus[10]: 62-63.

Allah swt telah mengkhabarkan kepada kita, bahwa wali-wali Allah adalah orang-orang yang beriman yang selalu bertakwa.

Terkait ayat ini, Imam Ghazali rh dalam al-Ihya’-nya menjelaskan, bahwa iman itu memiliki empat peringkat :
1- ‘Iffah, yaitu menahan diri dari syahwat (kesenangan dunia), sedang subyeknya dinamakan afîf.
2- Waro’, yaitu menahan diri dari syahwat dan syubhat (perkara yang tidak jelas status hukumnya), sedang subyeknya dinamakan warok.
3- Taqwa, yaitu menahan diri dari syahwat, syubhat dan perkara yang diharamkan, sedang subyeknya dinamakan taqiy atau muttaqiy.
4- Shidqu, yaitu menahan diri dari syahwat, syubhat, perkara yang diharamkan dan dari perkara mubah/ halal, karena khawatir terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan. Dan subyeknya dinamakan shiddîq.

Dari penuturan diatas, bahwa Wali Allah adalah orang mukmin yang bertakwa, yaitu orang mukmin yang telah mencapai peringkat takwa, yakni orang mukmin yang telah menahan diri (menjauhi) dari perkara syahwat, syubhat, dan haram.

Terkait wali Allah, Rasulullah saw bersabda :
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﻦْ ﻋَﺎﺩَﻯ ﻟِﻲ ﻭَﻟِﻴًّﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺁﺫَﻧْﺘُﻪُ ﺑِﺎﻟْﺤَﺮْﺏِ، ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻘَﺮَّﺏَ ﺇِﻟَﻲَّ ﻋَﺒْﺪِﻱ ﺑِﺸَﻴْﺊٍ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇﻟﻲّ ﻣِﻤَّﺎ ﺍﻓْﺘَﺮَﺿْﺘُﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﻋَﺒْﺪِﻱ ﻳَﺘَﻘَﺮَّﺏُ ﺇِﻟَﻲَّ ﺑِﺎﻟﻨَّﻮَﺍﻓِﻞِ ﺣَﺘَّﻰ ﺃُﺣِﺒَّﻪُ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻛُﻨْﺖُ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺘُﻪُ ﻛُﻨْﺖُ ﺳَﻤْﻌَﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺴْﻤَﻊُ ﺑِﻪِ ﻭَﺑَﺼَﺮَﻩُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺒْﺼُﺮُ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﺪَّﻩُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻳَﺒْﻄِﺶُ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺭِﺟْﻠَﻪُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻳَﻤْﺸِﻲ ﺑِﻬَﺎ، ﻭَﻟَﺈِﻥْ ﺳَﺄَﻟَﻨِﻲ ﻟَﺄُﻋْﻄِﻴَﻨَّﻪُ ﻭَﻟَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻌَﺎﺫَﻧِﻲ ﻟَﺄُﻋِﻴْﺬَﻧَّﻪُ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ .
“Sesungguhnya Allah swt berfirman: “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai daripada sesuatu yang talah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku tidak henti-hentinya beribadah kepada-Ku dengan yang sunnah-sunnah hingga Aku mencintainya. Lalu ketika Aku mencintainya, maka aku menjadi (menjaga) pendengarannya yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya, menjadi tangannya yang ia menyentuh dengannya, dan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan andaikan ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku berikan permintaannya, dan andaikan ia berlindung dengan-Ku, niscaya Aku melindunginya”. HR Bukhari dari Abu Hurairah ra.

Pada hadis diatas, Allah swt melalui Rasul-Nya telah memberi khabar terkait karakter wali Allah, yaitu hamba Allah yang selalu melaksanakan ibadah fardlu/ wajib (termasuk kewajiban menjauhi apasaja yang diharamkan) dan ibadah sunnah (termasuk sunnah menjauhi apa saja yang makruh).

Sedangkan arti Allah menjadi pendengaran, penglihatan, tangan dan kaki hamba-Nya, adalah bahwa Allah memberi keistimewaan kepadanya, sehingga bisa mendengar dan melihat diluar kemampuan orang normal, juga bisa menyentuh dan berjalan diluar kemampuan orang normal. Inilah yang dinamakan karomah.

Atau artinya, Allah menjaga pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya dari melakukan maksiat dan munkar. Jadi para wali Allah itu adalah orang-orang yang bertakwa.

Terkait wali Allah, Imam Ibnu Qayyim rh dalam kitab al-Ruh-nya menuturkan :

“Wali-wali Allah adalah orang-orang yang ikhlas dan yang menjadikan Rasulullah saw sebagai hakim dalam menentukan halal dan haram, yang berpegang teguh dengan sunnahnya, yang tidak membuat bid’ah dan tidak pula mengajak kepada bid’ah, tidak bergabung kecuali dengan golongan Allah, Rasulullah dan sahabatnya, tidak menjadikan agama sebagai permainan dan hiburan, tidak suka mendengarkan suara syetan sehingga mengalahkan suara al-Qur’an, tidak memilih berteman dengan para pemuda kecuali untuk mencari ridla Allah, tidak memilih musik dan nyanyian sehingga mengalahkan tujuh ayat yang diulang-ulang dalam shalat. Wali Rahman itu tidak akan serupa dengan wali syetan, kecuali bagi orang yang tidak punya mata hati (bashiroh).

Bagaimana bisa, orang-orang yang berpaling dari kitab Allah dan petunjuk serta sunnah Rasul-Nya, dan menyalahi keduanya untuk mengambil yang lainnya, mereka menjadi wali-wali Allah?! Mereka benar-benar memukul-mukul dadanya (sombong seperti kingkong) ketika menyalahi petunjuk dan sunnahnya, dan mengambil selain petunjuk dan sunnahnya. Padahal Allah swt benar-benar berfirman :
ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺅُﻩُ، ﺇِﻥْ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺅُﻩُ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘُﻮْﻥَ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ .
“Dan tiadalah mereka itu wali-wali-Nya. Tidaklah ada wali-wali-Nya kecuali orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. QS al-Anfal [8]: 34. Jadi wali-wali Rohman adalah orang-orang yang selalu mengerjakan apa saja yang dicintai oleh al-Rohman, berdakwah kepada-Nya dan memerangi siapa saja yang keluar darinya. Sedang wali-wali syetan adalah orang-orang yang selalu mengerjakan apa saja yang dicintai oleh syetan, berdakwah kepadanya dan memerangi siapa saja yang keluar darinya”.

WALI THAGHUT

Wali Thaghut (syetan) adalah kebalikan dari wali Allah, yaitu orang kafir dan musyrik, atau orang muslim yang telah kehilangan karakter takwanya, yakni orang muslim yang terjerumus ke dalam kubangan syahwat, syubhat dan haram. Ia telah menerjang segala hal dan segala perkara yang terkatagori syahwat, syubhat dan haram. Dan termasuk haram adalah meninggalkan kewajiban atau kefardluan agama Islam atas kaum muslim. Lebih jelasnya, ia telah melanggar dan menolak syariat Islam. Lebih jelasnya lagi, ia telah melanggar dan menolak hukum-hukum Allah swt untuk mengatur kehidupan, masyarakat dan negara. Ia telah menerapkan dan mendakwahkan syariat Thaghut atau hukum-hukum Thaghut. Karena diantara hukum Allah dan hukum Thaghut atau diantara Islam dan kafir, ada jurang yang lebar, laksana barat dan timur, dimana kalau kita berjalan kebarat, berarti kita menjauhi timur atau sebaliknya. Karena kehidupan bermasyarakat dan bernegara itu bisa bisa terwujud tanpa adanya hukum (sistem) yang mengatur, kehidupan itu bukan ruang kosong yang tak berpenghuni, dan bukan kehidupan orang-orang gila. Jadi ketika ada seseorang yang dianggap wali atau diwalikan tetapi telah kehilangan karakter takwanya, maka saksikanlah bahwa dia adalah wali thaghut.

Sedang perkataan yang populer di tengah-tengah kaum muslim tradisionalis yang hobi mewali-walikan orang-orang yang punya keanehan, yaitu :
ﻟَﺎ ﻳَﻌْﺮِﻑُ ﺍﻟْﻮَﻟِﻲَّ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟْﻮَﻟِﻲُّ .
"Tidak mengerti Wali kecuali Wali", maka Imam Junaidi Al-Baghdadi, Imam Shufiyyah dan guru dari Syaikh Abbdul Qadir Jailani, terkait konotasi maqalah tersebut, beliau berkata :

ﻣَﻌْﻨَﺎﻩُ : ﻭَﺍﻟﻠﻪِ ﻣَﺎ ﻋَﺮَﻑَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ }. ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ، ﺹ 10: }.
"Maknanya; Demi Allah, tidak mengerti (hakekat) Allah kecuali Allah". Jadi yang dimaksud dengan Alwaliy adalah Allah swt. 

Allah swt juga dalam Al-Qur'an telah menjelaskan dengan firman-Nya:
ﺃَﻡِ ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭْﺍ ﻣِﻦْ ﺩُﻭْﻧِﻪِ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ، ﻓَﺎﻟﻠﻪُ ﻫُﻮُ ﺍﻟْﻮَﻟِﻲُّ ﻭَﻫُﻮَ ﻳُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻴْﺊٍ ﻗَﺪِﻳْﺮٌ .
"Atau patutkah mereka mengambil wali-wali selain Allah? Maka Allah, Dialah Wali (Pelindung) dan Dia menghidupkan orang- orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS asy-Syuro[42]: 9).

MENEPIS SYUBHAT

Imam Ibnu Qayyim rh dalam kitab al-Ruh-nya juga berkata:
“Maka ketika kamu melihat seorang laki-laki yang suka mendengarkan syetan, seruan syetan dan saudara-saudara syetan, dan dia juga mengajak kepada perkara yang disukai oleh syetan seperti syirik, bid’ah dan munkar, maka ketahuilah bahwa dia itu termasuk wali syetan. 

Kemudian ketika kondisi lelaki itu masih menyulitkan kamu (wali Allah apa wali syetan), maka singkaplah dia dengan tiga perkara berikut:

Pertama: Shalat, serta cinta dan bencinya kepada sunnah dan ahli sunnah. Yakni, ketika ia menegakkan shalat, mencintai sunnah dan ahli sunnah, berarti ia wali Rohman. Dan apabila ia tidak menegakkan shalat, seperti tidak melaksanakannya dengan berjamaah dan khusuk, atau mengeluarkannya dari waktunya, atau meninggalkannya tanpa udzur yang dibenarkan oleh syara’; dan tidak mencintai sunnah dan ahlinya, tetapi ia membencinya, atau ia lebih menyukai bid’ah, khurofat, kejahiliyahan dan kesesatan, maka ia adalah wali syetan.

Kedua: Dakwahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Yakni, apabila ia mengajak ibadah kepada Allah semata dan mengikuti Rasul-Nya, maka ia adalah wali Rohman. Dan apabila ia mengajak ibadah kepada selain Allah dan mengikuti selain Rasul-Nya, maka ia adalah wali syetan.

Ketiga: Memurnikan tauhid, mengikuti Rasulullah saw dan berhukum dengan sunnahnya. Yakni apabila ia memurnikan tauhid dari syirik, syirik jaliy maupun syirik khafiy, mengikuti Rasulullah saw dan berhukum dengan sunnahnya, maka ia adalah wali Rohman. Tapi apabila ia berbuat syirik, tidak mengikuti Rasulullah saw dan tidak berhukum dengan sunnahnya, maka ia adalah wali syetan.

Maka timbanglah ia dengan tiga perkara diatas, dan jangan menimbangnya dengan kondisinya (yang aneh-aneh), mukasyafah dan perkara yang keluar dari kebiasaannya, meskipun ia bisa berjalan diatas air dan terbang di udara”.

Dan dalam hal ini, Ibnu al-Juwzy al-Baghdady dalam kitab Talbîsul Iblîs-nya berkata : “Laiyts bin Saed berkata :
ﻟَﻮْ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺻَﺎﺣِﺐَ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻳَﻤْﺸِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻣَﺎ ﻗَﺒِﻠْﺘُﻪُ .
“Seandainya aku melihat pemilik bid’ah berjalan di atas air, maka aku tidak menerimanya”. 

Imam Syafi’iy rh berkata:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻴْﺚَ ﺑْﻦَ ﺳَﻌْﺪٍ ﻣَﺎ ﻗَﺼَّﺮَ، ﻟَﻮْ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﻳَﻤْﺸِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻭَﻃَﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯ ﻣَﺎ ﻗَﺒِﻠْﺘُﻪُ .
“Sesungguhnya Laiyts bin Saed itu tidak sembrono. Seandainya aku melihat pemilik bid’ah berjalan diatas air dan terbang di udara, maka aku tidak menerimanya”.

WALI-WALI ALLAH ADALAH PARA PENGEMBAN DAKWAH ISLAM KÂFFAH

Wali Allah adalah orang yang beriman yang selalu bertakwa, sedangkan takwa -sebagaimana penuturan Alghozali diatas- adalah menahan diri (meninggalkan) perkara syahwat, syubhat dan haram, atau secara umum takwa adalah melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, wali-wali Allah adalah ulama akhirat, karena takwa itu tidak akan bisa sempurna tanpa ilmu yang cukup, yakni ilmu yang mencakup seluruh perintah dan larangan Allah swt yang harus dikerjakan dan ditinggalkan. Dalam hal ini syaikh Abdul Wahab Sya’roni rh dalam kitab al-Mizan al-Kubro-nya berkata :
ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦِ ﺍﻟْﺄَﺋِﻤَّﺔُ ﺍﻟْﻤُﺠْﺘَﻬِﺪُﻭْﻥَ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﻓَﻤَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺟْﻪِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻟِﻲٌّ ﺃَﺑَﺪًﺍ .
“Seandainya para imam mujtahid itu bukan wali-wali Allah, maka di atas bumi  tidak akan ada wali Allah selamanya”.

AKHIR KATA

Sudah sangat jelas, bahwa yang layak disebut sebagai wali-wali Allah adalah ulama akhirat, bukan ulama dunia.

Sosok wali-wali Allah yang diterima oleh mayoritas penduduk Indonesia adalah sosok Walisongo. Walisongo adalah para pembela dan penegak agama Allah swt. Mereka adalah utusan dakwah khilafah 'utsmaniyyah. Mereka adalah para pengemban dakwah Islam Kâffah. Dan mereka sampai akhir hayatnya tidak berhenti dari aktifitas dakwah menuju penerapan syariat Islam dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Berdirinya banyak kesultanan Islam di Nusantara adalah bukti sejarah yang tidak terbantahkan.

Wallahu A'lam Bishshawwab


Tags

Posting Komentar

1 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
  1. Barakumullah Yai, terima kasih atas ilmunya. saya menjadi paham, terutama berkaitan dengan pernyataan "Hanya Wali yang mengenal Wali". jazakumullah khairan katsiraa

    BalasHapus